ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEKNYA

A. Aspek Ibadah
Manusia dalam faham ajaran islam, sebagaimana ajaran monoteisme lainnya, tersusun dari dua unsure, yaitu jasmani dan rohani. Badan, karena mempunyai hawa nafsu, membawa pada kejahatan, sedangkan roh, berasal dari unsure mengajak pada kesucian.Oleh karena itu pendidikan jasmani harus disempurnakan dengan pendidikan rohani.
Ibadah dalam islam bukan bertujuan supaya tuhan disembah dalam arti penyembahan dalam agama-agama primitif. Pengertian ini adalah pengertian yang tidak tepat.

Dalam surat Al-Zariat 56 mengatakan :
“Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepadaku”.

Arti ini lebih sesuai dengan arti yang terkandung dalam kata muslim dan muttaqi, yaitu menyerah, tunduk dan menjaga diri dari hukuman Tuhan di hari kiamat dengan memematuhi perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT. Dengan kata lain, tuhan menciptakan manusia sebenarnya ialah untuk berbuat baik dan tidak berbuat jahat.
Tujuan ibadah dalam islam adalah bukan menyembah, tetapi mendekatkan diri kepada tuhan, agar dengan demikian roh manusia senantiasa diingatkan kepada hal-hal yang bersih lagi suci, sehingga akhirnya rasa kesucian seseorang menjadi kuat dan tajam. Roh yang suci membawa budi pekerti baik dan luhur. Oleh karena itu, ibadah, disamping merupakan latihan spirituil, juga merupakan latihan moral.

Shalat memang erat hubungannya dengan latihan moral. Dalam surat Al-Ankabut 45 menyatakan :
“Shalat mencegah orang dari perbuatan jahat dan tidak baik”.

Dalam hadis qusdi disebut :
“Tuhan akan menerima shalat orang yang merendah diri, tidak sombong, tidak menentang, malahan selalu ingat kepada Tuhan dan suka menolong orang-orang yang dalam kesusahan seperti fakir miskin, orang dalam perjalanan, janda dan orang yang kena bencana. Jadinya salah satu tujuan shalat ialah menjauhkan diri manusia dari perbuatan-perbuatan jahat dan mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang baik.

Demikian juga puasa dekat hubungannya dengan latihan moral. Surat Al-Baqarah 183 yang berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai halnya dengan umat sebelum kamu. Semoga kamu menjadi orang yang bertakwa”.

Demikianlah, berarti puasa bukanlah menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari perbuatan-perubatan yang tidak baik.

Mengenai haji, Surat Al-Baqarah 197 mengatakan :
“Menerangkan bahwa sewaktu mengerjakan ibadah haji orang tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, tidak boleh berbuat hal-hal yang tidak baik dan tidak boleh bertengkar”.

Tentang zakat ayat 103 dari surat Al-Taubah :
“Yang menjelaskan bahwa zakat diambil dari harta untuk membersihkan dan mesucikan pemiliknya”.

“Ada hal yang lebih tinggi derajatnya dari shalat, puasa dan sedekah. Ketika para sahabat mengatakan ingin mengetahui hal itu, Nabi menjawab : “yaitu memperbaiki tali persahabatan”.

Demikianlah Al-qur’an menjelaskan bahwa ibadah sebenarnya merupakan latihan spiritual dan moral dalam usaha islam membina manusia yang tidak kehilangan keseimbangan hidup, dari perbuatan-perubatan yang tidak baik..
Disamping latihan spiritual dan moral, Al-qur’an dan hadis juga membawa ajaran-ajaran atau norma-norma moral yang harus dilaksanakan dan dipegang setiap orang islam.

Surat Al-Nisa ayat 58 :
“ Mengajarkan supaya manusia mengetahui hak orang lain dan bersikap ikhlas terhadap sikap itu. Ayat ini memerintahkan supaya amanat diteruskan kepada yang berhak. Juga mengajarkan supaya manusia bersikap adil”.

Surat Al-Nahl ayat 90 :
“ Di samping mengandung perintah supaya manusia bersikap adil, berbuat baik kepada orang dan menolong keluarga juga mengandung larangan berbuat tidak baik”.

Surat Al-Baqarah 188 mengatakan :
“Janganlah kamu memakan harta orang lain dengan alasan palsu dan jangan bawa hal itu ke depan hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan harta orang lain dengan jalan yang tidak benar”.

Surat Ibrahim 25, 26 menjelaskan :
“Demikian tuhan memberikan perumpamaan kepada manusia, semoga mereka ingat. Dan kata keji serupa dengan pohon busuk yang tercabut di atas bumi dan tidak mempunyai dasar. Tuhan memperkuat orang yang percaya dengan kata-kata kokoh di dunia maupun di akhirat. Tuhan membuat orang zalim menjadi sesat dan tuhan berkehendak sesuai kehendak hatinya”.

Surat Hujarat 11, 12 menjelaskan :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah mentertawai orang lain, mungkin mereka lebih baik dari mereka sendiri, dan janganlah wanita mentertawai wanita lain, mungkin mereka lebih baik dari mereka sendiri. Janganlah kamu saling mencela dan jangan pula saling memberi nama tidak baik. Seburuk-buruk nama ialah ai-furuq setelah adanya iman. Siapa yang tidak tobat, itulah orang yang zalim. Wahai orang yang beriman, jahuilah sebanyak mugkin prasangka, sebagian prasangka merupakan dosa”.

Surat Al-Nur 27, 28 :
“Umpamanya mengajarkan seseorang jangan memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin serta memberikan salam dan apabila tidak diberi izin masuk supaya kembali saja, karena itu adalah lebih baik”.
Dengan demikianlah pentingnya budi pekerti luhur dan tingkah laku sehari-hari dalam islam, sehingga hal-hal itu disebut tuhan dalam Al-Qur’an. Dan nabi sendiri mengatakan bahwa beliau diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan ajaran-ajaran tentang budi pekerti luhur.
Berkata benar dan tidak berdusta adalah norma moral yang penting. Nabi mengatakan : “Berkata benar menimbulkan ketentraman tetapi dusta menimbulkan kecemasan”.

Dalam islam masalah baik dan buruk ini mengambil tempat yang penting sekali. Golongan Asy’ariah mengatakan bahwa soal baik dan buruk dapat diketahui oleh akal. Sekiranya wahyu tidak diturunkan tuhan, manusia tidak dapat membedakan baik dan buruk. Wahyulah yang menentukan baik buruknya perbuatan.
Golongan Mu’talizah berpendapat bahwa akal manusia cukup kuat untuk mengetahui baik-buruknya perbuatan. Tanpa wahyu, manusia dapat mengetahui bahwa mencuri adalah perbuatan yang buruk dan menolong adalah perbuatan yang baik. Wahyu datang hanya untuk memperkuat pendapat akal manusia dan untuk membuat nilai-nilai yang dihasilkan fikiran manusia itu bersifat absolut dan universal, agar dengan demikian mempunyai kekuatan mengikat bagi seluruh umat.
Jelas bahwa dalam islam, soal baik dan buruknya menjadi dasar agama yang penting. Karena yang ingin dibina islam ialah manusia yang baik yang menjahui perbuatan-perbuatan buruk atau jahat di dunia ini. Manusia yang dimaksud ialah mu’min. muslim dan muttaqi.
Mu’min ialah orang yang percaya kepada Tuhan YME, sebagai nilai-nilai yang bersifat absolute. Muslim ialah orang yang menyerahkan diri dan tunduk kepada Tuhan. Dan Muttaqi atau orang yang bertakwa adalah orang yang memelihara diri dari hukuman Tuhan di akhirat, yaitu orang yang patuh pada Tuhan, dalam arti menjalankan perintah-perintahnya dan patuh yang menjahui larangan-larangnya. Dengan tegasnya yang dimaksud dengan orang yang bertakwa ialah orang yang mengerjakan kebaikan-kebaikan dan menjahui kejahatan.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan orang mu’min, muslim dan muttaqin sebenarnya adalah orang bermoral tinggi dan berbudi pekerti luhur.tujuan dasar dari semua ajaran-ajaran islam memanglah untuk mencegah manusia dari perbuatan buruk atau jahat dan mendorong manusia untuk berbuat kebaikan. Tidak mengherankan kalau soal akhlak dan budi pekerti luhur memang merupakan pelajaran yang penting sekali dalam islam.

B, Aspek Mistisisme
Disebutkan bahwa ada segolongan umat Islam yang belum puas dengan mendekatan dirinya kepada Tuhan melalui Ibadah shalat, puasa dan haji. Jalan itu diberikan oleh al-tassawwuf. Al-tasawwuf atau Sufisme ialah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam.
Tujuan dari mistisisme, baik yang di dalam maupun yang di luar Islam, ialah memperoleh hubungan langsung dan didasari karena Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Intisari dari mistisisme, termasuk dalamnya tasawwuf, adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antar roh manusia dengan tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran itu akhirnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan yang dalam istilah Arab disebut ittihad.
Berbagai teori dimajukan tentang asal-usul kata al-tasawwuf dan al-sufi. Teori yang benyak diterima ialah bahwa istilah itu berasal dari kata suf yaitu wol. Yang dimaksud bukanlah wol dalam arti modern, tetapi wol primitive dan kasar yang dipakai di zaman dahulu oleh orang-orang yang miskin di timur tengah. Di zaman itu pakaian kemewahan sutra. Orang sufi ingin hidup sederhana dan menjahui hidup keduniawian untuk itu mereka hidup sebagai orang-orang miskin memakai wol kasar tersebut.
Kemudian pendapat-pendapat mengatakan tasawwuf datang dari kebiasaan rarhib-rahib Kristen untuk menjahui dunia, dari pengaruh ajaraan hindu, dari falsafat Phytagoras untuk meninggalkan kehidupan materil, dan dari falsafat Plotinius mengatakan zat yang berasal dari Tuhan akan kembali ke Tuhan.
Bagaimanapun, faham bahwa tuhan dekat dengan manusia merupakan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Ayat Al-Baqarah 186, mengatakan :
“Jika hamba-hambaku bertanya padamu tentang diriku, Aku adalah dekat, Aku mengabulkan seruan orang memanggil jika ia panggil Aku”.

Ayat 115 juga mengatakan :
“Timur dan barat kepunyaan Allah, maka kemana saja kamu berpaling disitu (kamu jumpai)”.

Beradasarkan ayat diatas kaum sufi berpendapat bahwa untuk mencari Tuhan orang tak perlu pergi jauh-jauh. Apalagi hadis mengatakn bahwa :
“Siapa yang kenal pada dirinya, pasti kenal pada Tuhan”.
Dengan kata lain : carilah Tuhan dalam dirimu sendiri. Jadi, terlepas dari kemungkinan adanya pengaruh dari luar Islam.
Telah dibayangkan diatas bahwa mistisisme, termasuk dalamnya tasawwuf, erat hubungannya dengan keadaan menjahui hidup duniawi dan kesenangan meteril. Hal ini disebut zuhd (asceticism). Orang yang mempunyai sifat ini disebut zahid (ascetic, barulah menjadi sufi (mystic).
Zahid yang pertama yaitu, Al-Hasan Al-Basri. Ia lahir di Madinah tahun 642 M dan meninggal di basrah 728M. Ia yang disebut dalam Aspek teologi, ketika Wasil Ibn Ata’ menyatakan pendapatnya tentang kedudukan pembuat dosa besar.
Ia pernah mengatakan : “Bersikaplah terhadap dunia ini seolah-olah engkau tak pernah berada diatasnya dan bersikaplah terhadap akhirat seolah-olah engkau tidak akan keluar dari dalamnya”.
Yang kedua, ibrahim Ibn Adham dari Balk di Khurasan. Ia lahir di Mekkah, ketika kedua orang tuanya melaksanakan haji. Ayahnya Adham, adalah Raja dari Balkh. Dari anak Ibrahim akhirnya berobah menjadi zahid. Ia meninggal pada 777 M.
Diantara ucapannya Ibranim Ibn Adham : “ Kemiskinan (al-faqr) adalah harta yang disimpan Tuhan di Surga dan yang tidak dianugerahkannya kecuali kepada orang-orang yang dicintainya”.
Ketiga, Radi’ah Al-Adawiah lahir di Basrah tahun 714 M dan meninggal sewaktu ia masih kecil kemudian ia kelihatannya dijual sebagai budak. Setelah dibebaskan ia memilih hidup sebagai Zahid.
Ia memberi nasihat : “Pandanglah dunia ini sebagai sesuatu yang hina dan tak berharga, itu kebih baik bagiMu”.
Abu Nasr Bisyr Al-Hafi juga dikenal sebagai Zahid. Ia berasal dari Khurasan dan lahir tahun 767 M dan meniggal di Bagdad di tahun 841 M.
Mengenai hidup ia mengatakan : “Orang yang mencari harta-benda, harus bersedia untuk di hina”. “Dunia sama dengan wanita, pada mulanya ia sayang dan kasih kepada mu, tetapi kemudian ia menentang dan menyembelih mu”.

Published in: on April 16, 2010 at 8:33 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://danankphoenix.wordpress.com/2010/04/16/islam-ditinjau-dari-berbagai-aspeknya/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. […] ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEKNYA April 2010 Published in: […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: