DAKWAH PASCA ROSULLAH SAW

Setelah rasullah SAW meninggal dunia, amanat dakwah berpindah kepada para sahabat. Islam tidak mati dengan matinya Rasulullah, karena sebelum meninggalnya, beliau telah meninggalkan kader-kadernya yang tangguh yang siap mengusung ajaran Islam.

Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin
• Dakwah pada masa Abu Bakar
Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu terpilih. Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya.
Abdullah bin Ustman bin Amir bin KA’ab bin Sa’ad bin tayyim bin Murrah. Lahir di Mekkah. Rasullulah SAW menyifatinya dengan “Atiq Min An Nar” (orang yang terbebas dari neraka). Abu Bakar memerintah selama dua setengah tahun, sangat sempit tetapi apa yang dicapai sangatlah melampaui masa yang tersedia. Masa-masa pemerintahanya sarat dengan amalan dan jihat dan meninggalkan buat kita yang sangat bermanfaat.
Di saat pemerintahan barunya, ia dikejutkan dengan gerakan yang diklasifikasi dalam tiga pola.
1. Murtad dari agama
Mereka adalah orang-orang yang lemah imannya dan masuk islam hanya formalitas. Kemungkinan mereka adalah kelompok munafik pada zaman Nabi. Setiap ada kesempatan menghancurkan kaum muslimin, mereka melakukan gerakan, sebagai mana yang terjadi pada perang tabruk. Mereka tidak berani terang-terangan melakukan pemurtadan diri pada masa Nabi karena takut pada saat itu. Perpindahan kekusaan dari Nabi ke abu bakar mereka anggap saat yang tepat untuk murtad dari islam.
2. Gerakan nabi palsu
Seperti Musailamah al Kazzab dari bani Hanifah, Thalhah bin Khuwailid dari bani Asad, Sajjah dari bani Tamim, dll. Sebagian ini sudah muncul pada masa Nabi, tetapi wafatnya nabi mereka anggap sebagai kesempatan untuk tampil terang-terangan.
3. Pembangkang zakat
Kelompok ini berpandangan bahwa zakat itu diberikan kepada Nabi dengan dalil kitab (objek informasi) dalam ayat tentang zakat dikhususkan kepada Nabi. Oleh karena itu, setelah nabi meninggal, hokum tentang zakat bagi mereka tidak berlaku lagi.
Karena penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid Radhiallahu ‘anhu adalah panglima yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.
Abu Bakar menyiapkan pasukan besar yang terdiri dari sebelas regu. Sebeum pasukan diberangkatkan, abu baker menulis pesan buat mereka ntuk menjadi panduan dalam memerangi para murtaddin. Beliau juga minta kepada mereka agar memaafkan mereka dan mengajak kembali kepada Islam. Jika mereka menolak, mereka boleh diserang
Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu, sebagaimana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Perluasan wilayah pada masa abu bakar, setelah masalah internal mulai tenang. Kawasan itu terdiri dari Bahrain dan Qatar, Kuwait, Irak, kawasan syam.
Di masa abu bakar dilakukannya pengumpulan Al-Qur’an, ini dilakukan karena adanya rasa kekhawatiran terhadap para sahabat yang hafal Al-qur’an akan gugur dalam medan perang yang terus berlanjut pada saat itu. Masa Abu Bakar mempunyai tugas yang berat bagi keutuhan ajaran Islam yaitu pengumpulan Al-Qur’an.
• Dakwah pada masa Umar bin khattab
Pada saat Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. Ia diganti oleh “tangan kanannya”, Umar ibn Khatthab al-Faruq Radhiallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar ibn Khatthab Radhiallahu ‘anhu sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar Radhiallahu ‘anhu . Umar Radhiallahu ‘anhu menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (petinggi orang-orang yang beriman).
Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Rabah. Beliau dari suku Quraisy. Dalam masa pemerintahanya beliau adalah negarawan yang baik, tegas dan tertib. Banyak hal baru yang diperoleh dari dirinya. Beliau menciptakan menciptakan strategi perluasan wilayah dan kebijakan buat negeri yang dibuka.
Beliau memerintah selama sepuluh tahun enam bulan. Penyebaran wilayah sampai pada Irak, Iran, Syam, Yordania, Suriah, dan Palestina. Selama memerintah Umar selalu berusaha dakwah sebagai tujuan utama negara.
Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar Radhiallahu ‘anhu segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijiah.
Umar Radhiallahu ‘anhu memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang majusi, budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah.
• Dakwah pada masa Utsman bin Affan
Untuk menentukan penggantinya, Umar Radhiallahu ‘anhu tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn ‘Auf Radhiallahu Ta’ala anhu ajma’in. Setelah Umar Radhiallahu ‘anhu wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman Radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah, melalui proses yang agak ketat dengan Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu.
Utsman bin Affan bin Ash bin Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf. Beliau diberi gelar Dzun Nurain karena menikah dengan dua anak rosulullah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Pemerintahan Usman Radhiallahu ‘anhu berlangsung selama 12 tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman Radhiallahu ‘anhu memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar Radhiallahu ‘anhu. Ini karena fitnah dan hasutan dari Abdullah bin Saba’ Al-Yamani salah seorang yahudi yang berpura-pura masuk islam. Ibnu Saba’ ini gemar berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk menyebarkan fitnah kepada kaum muslimin yang baru masa keislamannya. Akhirnya pada tahun 35 H/1655 M, Utsman Radhiallahu ‘anhu dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang berhasil dihasut oleh Abdullah bin Saba’ itu dan menjadi perselisihan panjang di tubuh kaum muslimin.
Metode dakwah beliau adalah:
o Berdakwah dengan melaksanakan tugas kekhalifahan yang diamanatkan secara maksimal
o Meneruskan dakwah para pendahulunya
o Berdakwah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
o Mengikuti tradisi baik yang sudah ada
o Tidak mendahulukan hukuman dalam mendidik rakyat
o Mengajak rakyak agar hidup zuhud
Pada masa Utsman perluasan wilayah meliputi kawasa; Barat Afrika, Negeri-negeri seberang sungai Jihun, Cyprus.

• Dakwah pada masa Ali bin Abi Thalib
Setelah Utsman Radhiallahu ‘anhu wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah Ali bin abi Thalib bin Abdi al Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay. Ali dikenal dengan keberanian, orator dan sastrawan. Pada masa Ali banyak sekali perjolakan tidak ada sedikitpun yang dapat dikatakan stabil dalam masa pemerintahanya. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali Radhiallahu ‘anhu menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman Radhiallahu ‘anhu. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman Radhiallahu ‘anhu kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar Radhiallahu ‘anhu.

Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Radhiallahu ‘anhu tidak mau menghukum para pembunuh Utsman Radhiallahu ‘anhu , dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman Radhiallahu ‘anhu yang telah ditumpahkan secara zhalim. Ali Radhiallahu ‘anhu sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair Radhiallahu ‘anhu ajma’in agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah Radhiallahu ‘anha dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah Radhiallahu ‘anha ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Radhiallahu ‘anhu juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari para gubernur di Damaskus, Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali Radhiallahu ‘anhu bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan nama perang shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali Radhiallahu ‘anhu. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Abdullah bin Saba’ al-yahudi) yang menyusup pada barisan tentara Ali Radhiallahu ‘anhu, dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).
Kedudukan sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya al-Hasan bin Ali Radhiallahu ‘anhuma selama beberapa bulan. Namun, karena al-Hasan Radhiallahu ‘anhuma menginginkan perdamaian dan menghindari pertumpahan darah, maka al-Hasan Radhiallahu ‘anhuma menyerahkan jabaran kekhalifahan kepada Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu .
Ciri-ciri umum pada masa Khulafaur Rasyidin:
o Kader-kader menciptakan motivasi yang kuat untuk melakukan dakwah keluar jazirah Arabia. Akivitas tersebut dalam dunia Islam dikenal dengan istilah futuhal islamiyyah.
o Lewat pemerintahan para khalifah menentukan kebijakan dan setrategi dakwah baik untuk masyarakat islam maupun diluar islam.
o Futuhat Islamiyyah yang dilakukan oleh para sahabat selalu diikuti oleh perluasan pemikiran atau ilmu islam.
Diantara gerakan yang paling menonjol pada khulafah rasyidin adalah:
o Menjaga keutuhan Al-Qur’an al Karim dan mengumpulkannya dalam bentuk mushaf abu Bakar
o Memberlakukan mushaf standar pada masa Utsman bin Affan
o Keseriusan mereka untuk mencari dan mengajarkakn ilmu dan memerangi kebodohan berislam para penduduk negeri.
o Islam dalam masa awal tidak mengenal pemisahan antara dakwah dan negara, antara da’I dan panglima. Tidak dikenal orang khusus sebagai da’i.

Dakwah Pada Masa Dinasti Umayyah
Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Kekuasan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu Kota negara dipindah kan Muawiyah dari Madinah ke damaskus, tempat berkuasa ia sebelumnya. Khalifah besar Bani Umayyah adalan Muawiyah ibn Abi Sufyan, Abd Al-Malik, Umar ibn Abd al-Aziz, dan Hasyim ibn Abd Al-Malik.
a.gerakan dakwah di kawasan ini menempuh 2 strategi, yaitu:
1. di kawasan timur laut,yaitu negeri-negeri yang terletak di seberang sungai, atau negeri-negeri yang terletak di antara 2 sungai,jihun dan sihun. Kaum muslimin melnjutkan perjuangannya di bawah komando Ubaid bin Ziyad bin Ubaih dan Qutaibah bin Muslim dan lainnya. Qutaibah berhasil memasuki kawasan ini sampai hampir menguasai daerah-daerah yang terletak diantara dua sungai tersebut. Di sini mereka menghancurkan berhala dan membakarnya. Banyak penduduk yang masuk Islam di tangannya. Qutaibah juga memasuki kawasan Kasghar Cina.
Di kawasan tenggara,di daerah Sind,Muhammad bin Al Qasim ats Tsaqafi berangkat menuju kwasan ini. Gerakan perlusaan negeri juga di ikuti kebangkitan pemikiran dan social. Masjid-masasjid dan sekolah merata diseluruh pelosok negeri, baik di kota maupun di desa. Para ahli fikih,hadis dan sejarah aktif beraktivitas di segala ini. Karena itu tidak mengheran kan jika banyak di antara mereka menjadi ulama terkemuka dan memiliki kontri busi besar dalam memperkaya khazanah pemikiran Islam
Beberapa hal yang membawa Bani Umayyah kepada kehancuran.
o Sistem pergantian khalifah yang secara garis keturunan
o Latarbelakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik politik yang terjadi pada masa Ali.
o Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, adanya pertentang dari suku Arabia Utara dengan Arabia Selatan.
o Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah bersikap hidup mewah.
Tetapi yang menjadi Penyebab langsung tergulinggnya Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali bin Abdullah abass
.
Dakwah Pada Masa Dinasti Abbasiyyah
Dinasti Abasiyyah didirikan oleh Abdullah as Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bn Abbas. Dalam kekuasaan dinastinya, ppusat pemerintahannya dipindahkan ke Kurfah dan akhirnya ka Baghdad sampai daulah Abasiyyah, Baghdad dijuluki sebagai “Madinah as Salam”.
Perekonomian daulah Abasiyyah mulai meningkat dengan meningkatnya sector pertanian dan pertambangan.
Kehidupan dakwah pada masa abbasiyyah mengunakan daulah yang tegas diantaranya:
o Para khlifah Abbasiyyah masa keemasan adalah juga seorang ulama yang cinta ilmu.
o Mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemah berbagai ilmu dari berbagai bahaasa ke bahasa Arab, seperti falsafat, ilmu kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu musik dan lain-lain.
o Melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dakwah.
o Mendorong dan memfasilitasi pembaharuan sistem pandidikan dengan munculnya Madrasah.
o Setelah cahaya daulah Abbasiyyah mulai redup secara politis.
Demikian kemajuan politik dan kebudayan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tiada tandingannya di kal itu. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasan Bani Abbas periode pertama. Namun saying, setelah periode ini berakhir, islam mengalai kemunduran
Kemunduran mulai sejak Abbasiyyah diperintah oleh Abu Ja’far Muhammad al-Muntashir hingga Baghdad jatuh ke tangan Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim.
Faktor penyebab kemunduran Bani Abbasiyyah adalah:
• Adannya friksi dalam tubuh daulah Abbasiyyah.
• Gaya hidup bermewah-mewahan
• Khalifah mudah dipengaruhi
• Banyak serangan dari musuh

Published in: on April 17, 2010 at 2:26 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://danankphoenix.wordpress.com/2010/04/17/dakwah-pasca-rosullah-saw/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: