MUSHAF SALINAN USTMAN

Salinan mushaf ‘Ustman tidak bersyakl dan tidak bertitik. Cara penulisan yang demikina itu membuka kemungkinan terjadinya berbagai macam bacaan diberbagai kota dan daerah yang mempunyai kekhususannya sendiri-sendiri sesuai dengan tabiat dan adat kebiasaan masing-masing. Untuk membaca mushaf tersebut tidak memerlukan adanya tanda-tanda bunyi (harakat), tanda-tanda perbedaan huruf berupa titik-titik. Seperti yang dikatakan Abu Ahmad Al-Askari (wafat 328 H), kaum muslimin membaca Al-Qur’an dengan salinan mushaf ‘Ustman selama empat puluh tahun lebih, hingga pada masa Abdul Malik. Waktu itu banyak orang menulis Al-Qur’an pada lembaran-lembaran kertas dan akhirnya tersebar luas di Irak.
Ada dugaan bahwa yang dimaksud dengan “banyak orang yang menulis Al-Qur’an pada lembaran-lembaran kertas” adalah “banyak orang keliru membaca kata (lafadz) al-Qur’an setelah mereka bergaul dengan orang yang bukan Arab”. Setelah itu pada tahun 65 H beberapa pembesar pemerintahan mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya perubahan nash-nash al-Qur’an jika penulisan mushaf dibiarkan tanpa syakl tanpa titik. Berkenaan dengan itu beberapa sumber riwayat menyebutkan nama dua orang tokoh, Ubaidillah bin Ziad dan al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Dua orang inilah yang menurut sumber pertama kali merubah penulisan al-Qur’an.
Perbaikan bentuk penulisan tidak terjadi sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur dari generasi ke generasi hingga mencapai puncak keindahannya pada akhir abad ke-3 H. hingga akhirnya muncullah tiga orang tokoh yang terkenal, Abul-Aswad ad-Duali – dialah yang paling terkenal, Yahya bin Ya’mar, dan Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi.
Abul-Aswad ad-Duali dikenal karena dialah orang yang pertama kali meletakan kairah tata bahasa Arab atas perintah Ali bin Abi Thalib. Banya orang yang berpendapat bahwa penemuan akan cara penulisan al-Qur’an huruf-huruf bertitik merupakan kelanjutan dari kegiatan Abul-Aswad ad-Duali.
Dalam proses perbaikan itu, sebagian para ahli riwayat berpendapat, orang yang pertama meletakan tanda-tanda baca berupa titik-titik pada mushaf adalah Yahya bin Ya’mar. sampai saaat ini tidak ada bukti yang kuat yang menyatakan bahwa Yahya bin Ya’mar adalah benar orang yang pertama meletakan tanda-tanda baca itu, kecuali jika yang dimaksud bahwa Yahya bin ‘Amr yang mulai meletakan tanda-tanda baca pada mushaf itu di Kota Muruw.
Mengenai Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi, tidaklah mustahil kalau pekerjaanya dalam meletakan dasar tanda-tanda bacaan al-Qur’an merupakan kelanjutan dari kedua orang gurunya, yaitu Abud-Aswad dan Yahya bin Ya’mar. Nashr menimba ilmu pengetahuan dari dua orang tersebut. Namun, Abu Ahmad al-‘Askari, dalam satu riwayatnya yang aneh, menekankan bahwa Nashr bin ‘Ashim mengetahui adanya al-Qur’an tertulis dengan huruf-huruf bertitik ketika al-Hajjaj meminta kepada jurutulisnya supaya meletakan tanda-tanda di atas huruf-huruf yang sama bentuknya. Riwayat tersebut seolah-olah hendak mengatakan dengan pasti bahwa Nashr adalah orang yang pertama meletakan tanda baca berupa titik-titik pada mushaf.
Walaupun tidak dapat dipastikan apakah Abul-Aswad ad-Duali ataukah Yahya bin Ya’mar yang merupakan orang yang pertamameletakan tanda-tanda baca pada mushaf, namun tidak ada alas an untuk mengingkari andil mereka dalam upaya memperbaiki cara penulisan mushaf dan memudahkan bacaanya bagi segenap kaum muslimin. Selain itu juga tidak diragukan pula peranan al-Hajjaj yang cukup besar dan tak dapat dipungkiri aktifitasnya dalam mengawasi pekerjaan peletakan tanda-tanda baca dalam mushaf serta penjagaanya yang ketat.
Dalam perkembangan selanjutnya, semakin besar perhatian orang kepada usaha memudahkan penulisan al-Qur’an. Upaya ke arah itu mengambil berbagai bentuk. Al-Khalil, orang pertama yang menyusun titik-titik kemudian dibentuk menjadi gambar umtuk menghias buku, menyebut kekurangan-kekurangn usaha tersebut. Dia juga orang pertama yang membuat tanda baca hamzah, tasydid, raum, dan isymam. Dan ketika Abu Hatim as-Sajistani menulis buku buku tentang tanda baca titik dan syakl bagi al-Qur’an, cara penulisan mushaf sudah mendekati kesempurnaan, sehingga pada akhir abad ke-3 H penulisan mushaf telah mencapai puncak keindahan.
Alangkah banyaknya rintangan yang menghalangi orang ke arah perbaikan cara penulisan al-Qur’an! Sampai akhir abad ke-3 H para ulama masih berbeda pendapat mengenai penggunaan tanda-tanda titik. Sikap penolakan untuk menggunakan tanda-tanda bacaan sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu, sejak seorang sahabat nabi terkemuka, Abdullah bin Mas’ud mengatakan pendapatnya: “Murnikanlah al-Qur’an, jangan dicampuri apapun juga”.
Pada zaman berikurnya, benyak muslimin menyukai sesuatu yang dahulunya ditolak dan ditentang, yaitu menggunakan tanda-tanda baca titik dan syakl pada penulisan mushaf. Mereka yang dahulu mengkhawatirkan terjadinya perubahan nash al-Qur’an karena ditulis dengan tanda-tanda syakl dan titik, sekarang malah mengkhawatirkan terjadinya salah baca pada orang-orang awam yang tidak mengerti, jika penulisan mushaf tanpa dibubuhi tanda-tanda baca.
Jadi prinsip nash al-qur’an dengan seketat ketatnya itulah yang merupakan sebab pokok yang membuat orang pada suatu masa penggunanan titik dan syakl dalam penulisan al-Qur’an, sedang pada masa lain menyukai penggunaan. An-Nawawi berkata: “Penulisan mushaf dengan membubuhkan titik dan syakl adalah mustahab (lebih disukai), karena hal itu merupakan pencegahan bagi kemungkinan terjadinya salah baca dan pengubahan al-Qur’an”.
Mengenai dekorasi pada awal tiap surah, yang didalamnya tertulis nama-nama surah-surah yang bersankutatan dan keterangan yang mennunjukan surah itu Makkiyyah atau Madaniyah, pada masa itu memang ditentang oleh kaum konservatif di kalangan ulama dan kaum muslimin awam. Mereka berkeyakinan kuat bahwa semua itu bukan tauqifi (bukan kehendak dan bukan pula atas persetujuan Rosulullah) tapi atas contoh perbuatan atau kehendak pada sahabat para nabi.
Perbedaan pandapat itulah yang sesungguhnya merupakan benih bangkitnya tantangan hebat terhadap pencantum nama-nama surah pada awal pada tiap surah, bahkan berupa perindah penulisan dengan tinta emas, sehinga nama-nama surah itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wahyu Allah.
Tak lama kemudian terjadi peristiwa yang mengembirakan disamping artinya yang sangat besar, yaitu ketika di Kairo muncul al-Qur’an dalam bentuk yang mungil, indah dan halus. Mushaf-mushaf tersebut dicetak dan ditebitkan taun 1342 H (1923 M) dibawah pengawas Syeikhul-Azhar dan diakui serta disahkan oleh sebuah panitia khusus yang dibentuk untuk itu Oleh Raja Fuad I. Mushaf itu ditulis dan disusun sesuai dengan riwayat Hafsh mengenai qira’at ‘Ashim. Seluruh dunia Islam menyambut dan menerimanya dengan baik mushaf tersebut, sehingga tiap tahun dicetak dan merupakan mushaf yang satu-satunya yang beredar dikalangan umat islam, atau hampir semua ulama diberbagai pelosok dunia dengan bulat mengakui kecermatan yang sempurna, baik dekorasi maupun tulisannya

Published in: on April 25, 2010 at 10:34 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://danankphoenix.wordpress.com/2010/04/25/mushaf-salinan-ustman/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: